MODUL 17 SYSTEM STARTUP AND GRUP (ADINUSA)

Modul 17 membahas proses startup Linux serta peran GRUB sebagai bootloader utama. Proses booting dimulai dari BIOS/UEFI yang menjalankan bootloader, kemudian memuat kernel dan menginisialisasi sistem melalui init system seperti systemd. BIOS bertanggung jawab untuk inisialisasi perangkat keras sebelum sistem operasi dijalankan, sementara UEFI menawarkan fitur lebih modern. GRUB memungkinkan pengguna memilih sistem operasi atau kernel saat booting, serta menyediakan konfigurasi dinamis yang dapat diubah sementara atau permanen. Selain itu, modul ini menjelaskan berbagai jenis bootloader seperti GRUB, LILO, dan U-Boot, serta pentingnya file konfigurasi dalam proses booting. Terakhir, dijelaskan cara melakukan shutdown dan reboot dengan aman menggunakan perintah seperti shutdown, poweroff, dan rebooot, agar sistem tidak mengalami kerusakan data.
System Startup and Grub
Modul ini membahas tentang proses startup sistem Linux serta peran GRUB (Grand Unified Bootloader) dalam proses booting. Setelah menyelesaikan modul ini, Anda akan memahami:
- Proses Booting: Bagaimana sistem operasi dimulai dari kondisi mati hingga siap digunakan.
- Jenis Boot Loader: Menjelaskan beberapa jenis boot loader yang digunakan dalam sistem Linux.
- Fungsi BIOS: Peran BIOS dalam inisialisasi perangkat keras sebelum sistem operasi dimuat.
- File Konfigurasi Penting: Memahami file yang berperan dalam proses booting.
- Proses Shutdown dan Reboot: Bagaimana sistem ditutup dengan aman untuk menghindari kerusakan data.
Modul ini penting untuk memahami bagaimana Linux diinisialisasi dan dikendalikan sejak tahap awal hingga berjalan sepenuhnya.
Boot Sequence
Menjelaskan urutan proses booting dalam sistem Linux. Berikut adalah langkah-langkah dasar dalam boot sequence:
- BIOS/UEFI menjalankan bootloader – BIOS atau UEFI mencari dan mengeksekusi boot program yang biasanya ada di MBR (Master Boot Record).
- Bootloader memuat kernel – Bootloader seperti GRUB akan memilih dan memuat kernel Linux ke dalam memori.
- Kernel memulai init process (PID 1) – Kernel memulai proses utama sistem, yaitu
init, yang bertanggung jawab atas inisialisasi sistem. - Init mengelola startup sistem – Sistem dapat menggunakan systemd, Upstart, atau SysVinit untuk menjalankan proses-proses awal yang diperlukan.
Penjelasan tambahan:
- BIOS vs UEFI → BIOS adalah sistem lama yang digunakan untuk mengontrol hardware saat startup, sedangkan UEFI adalah pengganti modern dengan fitur tambahan.
- Power-On Self Test (POST) → Ini adalah pemeriksaan awal yang dilakukan oleh BIOS untuk memastikan hardware berfungsi dengan baik sebelum menjalankan bootloader.
- Initial RAM Disk (initrd) → Sebuah sistem file sementara yang digunakan selama booting sebelum filesystem utama dimuat.
Modul ini sangat penting untuk memahami bagaimana Linux diinisialisasi dan bagaimana berbagai komponen berinteraksi saat komputer dinyalakan.
BIOS (Basic Input Output System)
Menjelaskan tentang BIOS, yang merupakan firmware dasar dalam sistem komputer berbasis x86. BIOS bertanggung jawab untuk melakukan inisialisasi perangkat keras sebelum sistem operasi dimuat.
Fungsi utama BIOS:
- Mengontrol akses awal ke keyboard, layar, hard disk, dan komunikasi serial sebelum sistem operasi mengambil alih.
- Disimpan dalam ROM chip pada motherboard, sehingga tetap tersedia dan tidak terpengaruh oleh kerusakan pada disk.
- Memuat bootloader, yang kemudian akan menjalankan sistem operasi.
BIOS menjalankan serangkaian tes awal saat komputer dinyalakan, yang dikenal sebagai Power-On Self Test (POST), untuk memastikan perangkat keras berfungsi dengan baik sebelum melanjutkan ke tahap booting sistem operasi.
Pada komputer modern, BIOS mulai digantikan oleh UEFI (Unified Extensible Firmware Interface), yang menawarkan fitur lebih canggih, seperti antarmuka grafis dan dukungan untuk drive berkapasitas besar.
Modul ini penting untuk memahami peran BIOS dalam proses startup Linux.
Boot Loaders
Boot loader adalah program yang bertanggung jawab untuk memuat sistem operasi ke dalam memori setelah proses BIOS/UEFI selesai. Beberapa boot loader yang umum digunakan dalam sistem Linux adalah:
1. GRUB (GRand Unified Boot Loader)
- Hampir semua distribusi Linux modern menggunakan GRUB sebagai boot loader.
- GRUB mendukung multi-boot untuk beberapa sistem operasi.
- Memiliki antarmuka grafis dan berbasis teks untuk konfigurasi interaktif.
- Bisa digunakan untuk booting berbasis jaringan (diskless booting) dan memiliki fitur lanjutan lainnya.
2. efibootmgr
- Bukan boot loader, tetapi boot manager yang digunakan dengan GRUB dalam sistem EFI multi-boot.
3. LILO (Linux Loader)
- Boot loader lama yang sekarang sudah usang dan tidak digunakan dalam sistem modern.
4. Das U-Boot
- Digunakan luas dalam embedded systems (misalnya, sistem tertanam seperti perangkat IoT).
- Boot loader lain untuk sistem tertanam termasuk bareboot, tetapi kursus ini tidak berfokus pada sistem tertanam.
Pemahaman tentang boot loader sangat penting dalam administrasi sistem Linux, terutama jika Anda ingin mengelola sistem multi-boot atau melakukan troubleshooting saat sistem gagal booting.
Shutting Down and Rebooting in Linux
Perintah shutdown digunakan untuk mematikan sistem secara aman, memberi tahu semua pengguna tentang proses shutdown, dan menghentikan sistem secara bertahap tanpa merusak data. Setelah sistem mati, dapat dilakukan restart atau dibiarkan mati sepenuhnya.
Contoh Perintah Shutdown:
$ shutdown -h +1 "Power Failure imminent" # Shutdown dalam 1 menit dengan pesan ke pengguna
$ shutdown -h now # Shutdown segera
$ shutdown -r now # Reboot segera
$ shutdown now # Sama dengan -h now
Opsi Umum pada Perintah Shutdown:
Perintah shutdown --help akan menampilkan opsi yang tersedia, seperti:
-h→ Matikan mesin.-P→ Power-off sistem.-r→ Reboot sistem.-c→ Membatalkan shutdown yang sudah dijadwalkan.-k→ Kirim peringatan ke pengguna tanpa benar-benar shutdown.
Perintah Alternatif yang Sering Digunakan:
Selain shutdown, beberapa perintah lain yang umum digunakan:
reboot→ Restart sistem secara langsung.halt→ Menghentikan semua operasi tetapi tidak mematikan daya.poweroff→ Matikan sistem sepenuhnya.
Catatan:
Sebelum melakukan shutdown atau reboot, pastikan ada alasan kuat. Restart server tidak selalu menyelesaikan masalah!
What is GRUB?
GRUB (GRand Unified Bootloader) adalah bootloader utama yang digunakan pada hampir semua sistem Linux berbasis x86 (kecuali sistem embedded). GRUB menangani fase awal startup sistem, memungkinkan pengguna memilih sistem operasi dan kernel saat boot.
Fitur Utama GRUB:
- Multi-boot OS – Memungkinkan memilih sistem operasi saat boot.
- Multi-kernel support – Bisa memilih kernel atau initrd yang berbeda untuk sistem operasi yang sama.
- Dynamic configuration – Boot parameter dapat diubah saat startup tanpa perlu mengedit file konfigurasi terlebih dahulu.
GRUB 2 telah menggantikan GRUB 1 di semua distribusi Linux utama, kecuali pada RHEL 6-based systems.
GRUB Versions
GRUB memiliki dua versi utama: GRUB 1 (Legacy) dan GRUB 2, dengan filosofi dasar yang sama tetapi perbedaannya terletak pada fitur dan struktur konfigurasi.
Konfigurasi GRUB
Saat booting, sistem membaca file konfigurasi utama, yang bisa berada di:
/boot/grub/grub.cfg/boot/grub2/grub.cfg/boot/efi/EFI/redhat/grub.cfg
File ini tidak boleh diedit secara manual, karena dihasilkan secara otomatis oleh:update-grub atau grub2-mkconfig, berdasarkan file konfigurasi di:
/etc/grub.d//etc/default/grub
Jika perlu mengubah konfigurasi, lakukan melalui /etc/default/grub, lalu jalankan update-grub untuk menerapkan perubahan.
Interactive Selections with GRUB at Boot
Saat sistem menyala, setelah tahap POST dan BIOS, GRUB akan menampilkan menu boot yang berisi daftar sistem operasi atau distribusi Linux yang dapat dipilih.
Cara Navigasi di GRUB Boot Menu:
- Gunakan tombol panah atas/bawah untuk memilih sistem operasi yang ingin dijalankan.
- Tekan Enter untuk memilih opsi boot.
- Jika tidak ada interaksi dalam waktu tertentu, sistem akan mem-boot opsi default.
Mengedit Opsi Boot Secara Sementara:
- Pilih entri boot yang diinginkan dan tekan tombol "e" untuk masuk ke shell interaktif GRUB.
- Dalam mode ini, Anda bisa mengubah konfigurasi sementara, misalnya:
- Menambahkan kata
singledi akhir kernel command line untuk masuk ke single user mode (mode perbaikan).
# Setelah selesai, tekan Ctrl + X atau F10 untuk boot dengan konfigurasi yang diedit.
Penting:
- Perubahan yang dibuat di sini bersifat sementara dan akan hilang setelah reboot.
- Untuk perubahan permanen, edit file konfigurasi yang sesuai (misalnya
/etc/default/grub) dan jalankanupdate-grub.
Tips Tambahan:
Anda juga bisa masuk ke GRUB command line mode untuk menjalankan berbagai perintah atau memperbaiki instalasi GRUB jika ada masalah.

Komentar
Posting Komentar